Kamis, 02 Februari 2012

Aku Masih Ingin Melihat Senja Bersamamu


Sinar matahari kembali menyapaku pagi ini, seperti pagi yang sudah-sudah. Menyapa pori demi pori kulit yang menyambutnya dengan sapaan hangat, sehangat kerinduan yang menetas pada tiap tetes air mata manusia. Serupa air mataku.


Beberapa pasang mata mengintip melalui jendela. Mata yang tiada berhenti menggumamkan cerita. Menyumbangkan tawa luka. Memahat rasa sakit. Sedikit demi sedikit. Belum lama kutahu, mereka adalah mata kenangan yang dikirim pikiranku sendiri, yang masih ingin memadu rasa cinta kepada pagi, siang dan semua waktu yang tak tersebutkan. 


Kembali aku menuliskan hati kepada waktu. Menengadahkan rasa lupa dari luka. Mengintimidasi hening yang terbiasa melukai malam. Membutakan segala rasa yang tertuju pada hatiku yang dijauhi hatimu. Ini seperti sebuah kebenaran yang tiada mengenal kalimat adil.


Sejauh yang kuingat, aku telah mengakrabkan namamu pada harapan. Itu bukan perkara mudah, apalagi sepertinya mereka berjodoh. Setelah kamu memutuskan pergi, aku mungkin bukan lagi aku. Mungkin juga kamu bukan lagi kamu, di waktu aku memikirkanmu. Sejujurnya, sampai detik bait-bait ini terangkai.


Masih kental dalam lubuk kenangan, saat berulangkali aku berusaha memendam rasa gengsi demi mencari alasan supaya kamu menginapkan aku dalam pikiranmu walau hanya sesaat. Ketukan demi ketukan berulang kali aku alamatkan, sampai akhirnya kamu membuka pintu, menatap lalu mengajakku bertamu dan membiarkan hati kita saling bicara. 


Saat itu hore adalah teriakan keras yang membahana di galaksi ingatanku. Seakan nada-nada blues lupa diri dan merasa mereka adalah notasi-notasi rock ‘n’ roll yang dinamis. Begitu ritmis…, begitu manis. Itu adalah masa dimana bahagia adalah menu utama perbincangan kita.


 Semoga kamu ingat, bahwa batasan keyakinan bukanlah sesuatu yang mengganggu kita untuk tertawa bersama. Menyenangkan ketika Tuhan tidak mendikte kita untuk mengaitkan cinta walau cara pandang kita akan Dia berbeda.


“aku mencintaimu, tetapi aku lebih mencintai diriku,dan keluargaku” begitu katamu saat mengakhirinya. Tak lama setelah itu air mataku berkata “karenaku, kau tahu mencintai itu adalah pekerjaan berat kan?!’’ 


Ya, memang berat. Berat memang. Ini bukan tentang perpisahan yang membuatku bersedih, ini tentang aku yang mengenal kamu jauh sebelum aku mengenal rasa cintaku kepadamu.


Tapi aku juga ingat betapa cinta itu baik. Ia yang membuat pagiku segar tiap kali mengingatmu, membuat senjaku tersenyum saat merindukanmu dan membuat malamku menenangkan saat kita selalu bisa saling menemukan, nyata maupun maya. 


Saat menulis ini, aku sedang tersenyum dan bercanda dengan kenangan, melalui angan. Ya, angan adalah ruangan gratis tempatku bisa menyetubuhi perasaanmu, juga perasaanku. Sembari berdoa suatu hari nanti aku bisa menjadi dua, supaya bisa memelukmu di sana sambil merindukanmu di sini.


Baik-baik ya di sana. Mulai saat ini aku tak akan mengatakan “Mimpi indah ya!” lagi, tapi “hati-hati ya tidurnya!.”  Tahu kenapa? Hati-hati karena aku akan selalu memaksa untuk memasuki mimpimu dan menjadi aktor utama di setiap episodenya.


Satu lagi!!!...Aku masih ingin melihat senja bersamamu